TOPIK UTAMA »

September 7, 2014 – 9:25 pm | One Comment | 646

Difusi konsep kurikulum 2013 pada tahap awal pelaksananaan sudah selesai. Hampir seluruh pendidik telah terdampak oleh program pelatihan dan bergegas untuk menguasai konsep pembelajaran saintifik dan penilaian autentik. Program pelatihan telah memungkinkan sebaran konsep  kurikulum …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SUPERVISI, Uncategorized

Catatan Kecil Refleksi Supervisi Sekolah

Submitted by on March 27, 2012 – 2:12 pm3 Comments | 1,396

Seorang ekonom Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923), seperti diungkapkan  oleh Hardi Purba dalam situs hardipurba.com, telah meneliti dan menemukan fakta  bahwa 80% kekayaan bangsa Itali dikuasai oleh 20% penduduknya. Penemuan ini selanjutnya dikenal dengan istilah “80-20 rule”.  

Hasil temuan ini digunakan oleh ahli manjaemen kualitas, Dr. Yoseph Juran menggunakannya sebagai landasan  teori, ia juga menyatakan bahwa 80% uang yang hilang  terdapat dalam 20% masalah kualitas.

Apabila prinsip Pareto digunakan dalam manajemen mutu pendidikan, maka dapat kita nyatakan bahwa 80% mutu sekolah  merupakan dampak kurang efektifnya 20% variable tata kelola yang berpengaruh terhadap rendahnya pemenuhan standar mutu .

Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan sekolah dalam menjalakan fungsi manajerial. Asumsi ini dibangun dari pemikiran yang dinyatakan para ahli pendidikan yang tergabung dalam kelompok model pengembangaan kepala sekolah, www.loveladyschoolleadership.com,  yang menyatakan bahwa kepala kepala sekolah sebagai orang kunci di sekolah dalam membaharuan pembelajaran. Realitas ini menunjukkan bahwa peran kepala sekolah dalam mewujudkan keunggulan. Focus utamanya adalah mewujudkan keunggulan mutu lulusan.

Hasil supervisi beberapa sekolah dalam satu tahun terakhir diperoleh data bahwa bahwa kepala sekolah belum membaca dan menganalisis dokumen SKL (Standar Kompetensi Lulusan) sehingga kriteria lulusan yang sekolah tetapkan belum merujuk pada panduan. Kepala sekolah belum membaca Permendiknas tentang SKL terjadi merata di sekolah dasar dan sebagian besar di SMP dan SMA.

Akibat dari itu, program pemenuhan standar yang diselaraskan dengan pemenuhan  kriteria mutu mutu lulusan belum terstruktur secara sistematis. Contoh yang nyata terlihat dari program peningkatan mutu guru pada sebagian besar sekolah belum diselaraskan dengan kebutuhan siswa belajar untuk memenuhi SKL.

Sekali pun sekolah sudah memulai melaksanakan evaluasi diri, sasaran evaluasi masih belum jelas. Data dari kunjungan sekolah membuktikan bahwa para kepala sekolah dapat menjelaskan target ideal mutu lulusan dari sekolahnya secara lisan, gambaran mutu lulusan yang diceritakan belum tentu mereka tuliskan sebagai target mutu dalam program.

Sebagian besar sekolah belum menentukan ukuran keberhasilan dan melakukan evaluasi pencapaian program berdasarkan keunggulan mutu yang ditetapkan. Sekolah-sekolah unggul menetapkan target keunggulan mutu pada bidang pengembangan kompetensi berbahas Inggris, peningkatan kompetensi bidang TIK, pembinaan prestasi bidang sain dan matematika, sampai pada keunggulan kompetitif dalam meraih prestasi dalam berkompetisi. Data yang diperoleh cukup mengagetkan, semua sekolah belum memiliki instrumen untuk mengukur dan menilai keberhasilan dalam keunggulan khususnya. Data yang teramati membuktikan bahwa semua sekolah belum merumuskan instrumen superivi  untuk mengetahui kinerjanya dalam mewujudkan keunggulan yang ditetapkannya dalam program.

Instrumen yang sekolah gunakan adalah instrument standar yang berlaku secara umum untuk mengukur keterlaksanaan kegiatan pemenuhan standar. Dalam hal ini terbukti sekolah lebih focus pada pemenuhan syarat administrasi. Sementara pemenuhan mutu yang esensial agaknya masih terabaikan. Hal ini dapat dilihat dari pemenuhan administasi superivisi yang rata-rata sekolah miliki, namun tidak menggambarkan dinamika pembelajaran yang sesungguhnya dalam kelas. Hanya sedikit sekali sekolah yang menunjukkan catatan otentik tentang proses pelaksanaan supervisi yang ditindaklanjuti dengan refleksi dan rekomendasi tindak lanjut yang realistik dengan bukti nyata yang terdokumentasikan.

Berdasarkan catatan tentang permasalah utama dalam usaha pemenuhan standar nasional pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Sebagian pimpinan sekolah yang dikunjungi belum menyediakan waktu khusus untuk menelaah panduan penerapan standar, mereka lebih suka mendengarkan penjelasan tentang bagaimana cara dan patokan pemenuhan stadar daripada menelaah melalui proses membaca.
  • Sebagaian besar sekolah yang dikunjungi belum menentukan criteria keunggulan mutu lulusan sekolahnya dengan merujuk pada SKL.
  • Program pemenuhan delapan standar belum ditentukan  untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu lulusan, hal paling mencolok terlihat pada program peningkatan mutu pendidik  belum sekolah selaraskan  dengan kebutuhan peningkatan mutu belajar siswa.
  • Sekolah pada umumnya dapat menjelaskan keunggulan cita-citanya secara lisan, namun sebagian besar sekolah belum menuliskan cita-cita keunggulan dalam program.
  • Sebagian besar sekolah belum mengembangkan instrument evaluasi untuk mengukur ketercapaian target kinerja dalam program melalui kegiatan supervisi sehingga sekolah memiliki data yang sangat terbatas sebagai input informasi sebagai bahan evaluasi keterlaksanaan dan pemenuhan pencapaian program.

Hasil pelaksanaan supervisi sekolah menegaskan beberapa rekomendasi seperti di bawah ini.

  • Pimpinan sekolah perlu didorong dengan kebijakan menetapkan kebijakan mutu berdasarkan pengkajian panduan penerapan stadar baik peraturan pemerintah maupun permen. Keunggulan mutu lulusan wajib sekolah definisikan sebagai dasar untuk menentukan target pada berbagai standar yang lainnya.
  • Menegaskan betapa pentingnya sekolah memiliki instrumen untuk mengukur kinerja pemenuhan standar yang ditetapkan berdasarkan program khas tingkat satuan pendidikan.
  • Menetapkan kebijakan agar setiap pimpinan sekolah memastikan bahwa supervisi dan evaluasi keterlaksanaan program dan ketercapaian hasil dilaksanakan dan diolah hasilnya sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan berkelanjutan.
  • Peingkatan kemampuan professional pimpinan sekolah dalam menetapkan tujuan, indikator, dan criteria serta pengukuran ketercapaian  menjadi titik kritis yang perlu mendapat perhatian serius pemangku kebijakan pembinaan tenaga kependidikan.

Demikian catatan kecil  ini disusun sebagai produk  pelaksanaan tugas supervisi untuk pemetaaan kinerja sekolah dalam upaya meningkatkan meningkatkan  keunggulan sumber daya manusia di masa depan.

Penulis : Rahmat, Dipublikasikan: Mar 27, 2012

Referensi:

  • Hardipurba..com
  • http://www.loveladyschoolleadership.com/pages/school-principal-change-model

3 Comments »

  • Drs.Abdul Hamid Taidi,M.Pd says:

    saya sependapat dengan catatan catatan diatas namun diera otonomi daerah seperti sekarang ini proses perbaikan berkelanjutan yang disarankan tidak bisa dipahami sama untuk tiap2 daerah,

  • Lilia Lestari,M.Pd says:

    Pada dasarnya supervisi sangat diperlukan di dunia pendidikan tidak lain untuk mengontrol kinerja guru dan kepala sekolah agar semakin profesional.

  • sri wahyuni says:

    Kenyataan dilapangan seperti catatan kecil panjenengan. Permasalahannya KS sebagai kunci pembaharuan pembelajaran belum sesuai dengan standar sehingga perlu supervisi agar lebih kompeten.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments