TOPIK UTAMA »

July 18, 2014 – 5:18 pm | 116

Menyongsong pelaksanaan tahun pelajaran baru serta memperhatikan pelaksanaan penilaian prestasi kerja yang meliputi Sasaran Kerja Pengawai (SKP) dan penilaian perilaku kerja yang efektif berlaku mulai tahun 2014 pasti akan menimbulkan konsekuensi baru dalam pelaksanaan tugas, …

Read the full story »
BERITA
PEMBELAJARAN
PENGELOLAAN
DAYA INSANI
SUPERVISI
Home » SUPERVISI, Uncategorized

Bukti Fisik

Submitted by on November 5, 2011 – 6:39 amNo Comment | 910

Seorang widyaiswara berdiri di muka kelas pelatihan para guru. Ia meminta para peserta pelatihan mengindentifikasi dirinya. “ Kepalanya botak.”, begitulah seorang peserta mengungkapkan fakta meyakinkan. Seluruh peserta tertawa, juga widyaiswara. “Berkacamata baca, pakai baju warna coklat, hidung mancung, tubuh gempal…. semakin banyak fakta yang dinyatakan, semakin riuh kelas itu, dan bapak widyaiswara puas dengan keramaian itu karena suasana  jadi interaktif. Suasana yang  menyenangkan,  mengawali pembelajaran dengan gelak tawa. Sesaat kemudian seorang  peserta bertanya. “ Pak, apakah Bapak orang jujur?” Sang widyaiswara tidak membuat pernyataan apa-apa, beliau tersenyum saja. Hal ini membuat suasana kelas makin bersemangat. Diskusi berlanjut. Karena tidak ada pengakuan dari yang ditanya, tak seorang pun menemukan indikator yang mendukung untuk membuat kesimpulan bahwa widyaiswar itu jujur. Penampilan fisiknya yang tampan tidak cukup untuk memberikan bukti fisik sifat kejujurannya.

Hari itu peserta penataran mendapat pelajaran bahwa bukti fisik  ternyata tidak selalu kongkrit (tangibles), namun bisa juga abstrak. Mereka mendapat pelajaran bahwa selain fakta mereka memerlukan data, informasi yang berhubungan dengan  prilakunya…dan itu tidak cukup diidentifikasi dalam kelas.

Apakah bukti fisik?

Bukti fisik (evidence:Inggris) adalah penggalan informasi yang mendukung kesimpulan.  Intinya jelas, pernyataan kesimpulan dapat diterima sebagai kebenaran jika memiliki bukti bukti yang mendukungnya (Richard F taflinger).

Bukti fisik adalah informasi, data atau fakta-fakta yang terintegrasi pada prinsip-prinsip inferensi. Infrerensi adalah  tindakan atau proses yang berlandaskan kesimpulan logis yang didasari dengan premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.

Dalam penelitian ilmiah, bukti fisik merupakan informasi yang relevan untuk mendukung atau menolak suatu hipotesis.  Bukti fisik ilmiah adalah informasi yang  memungkinkan orang lain untuk memeriksa latar belakang keyakinan atau asumsi-asumsi yang digunakan untuk menentukan relevansi fakta-fakta yang digunakan dalam mendukung  atau menegasikan hipotesis (wikipedia).

Ada beberapa kata penting yang terkait dengan bukti fisik, yaitu fakta, data, informasi, hipotesis dan asumsi.

Fakta adalah peristiwa, informasi atau keadaan yang ada dan dapat diamati, atau dikenal karena telah terjadi, dan yang dipastikan atau divalidasi sedemikian rupa sehingga dianggap ‘realitas.’  Fakta ilmiah adalah hasil observasi yang obyektif yang dapat diverifikasi, fakta kontras dengan hipotesis atau teori sehingga seperti dalam teori evolusi dapat dibedakan antara  teori dengan fakta.

Data adalah kumpulan fakta-fakta, seperti nilai atau hasil pengukuran. Data dapat berbentuk angka, kata-kata, hasil pengukuran, hasil pengamatan, atau hanya dalam bentuk deskripsi. Data dapat dibedakan antara data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah informasi deskriptif yang menggambarkan sesuatu. Data kuantitatif adalah informasi dalam bentuk angka.

Wikipedia menjelaskan bahwa data merupakan hasil pengukuran dan dapat menjadi dasar pembuatan grafik, gambar, atau pengamatan dari satu set variabel. Data sering dipandang sebagai tingkat terendah dari abstraksi informasi. Dalam konteks ini terdapat istialah data mentah dan data olahan  yang merujuk pada koleksi angka, karakter, gambar atau output lain dari perangkat pengumpulan informasi untuk mengubah kuantitas fisik menjadi simbol.

Informasi dipandang dari pengertian teknis adalah pesan baik dalam ucapan maupun tulisan yang mengandung sekumpulan pesan, simbol yang bermakna yang dapat ditafsirkan. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan. Informasi berkaitan erat dengan pengertian tentang  komunikasi, kontrol, data, pola, instruksi, pengetahuan, makna, stimulus mental, pola, persepsi, dan representasi. Informasi adalah jawaban dari pertanyaan “who”, “what”, “where”, and “when”.  Sementara ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan “How”. Jadi informasi merupakan sekumpulan data.

Di sini dapat dibedakan antara informasi dengan data. Informasi secara umum dapat dinyatakan sebagai pengetahuan yang diperolah dari investigas atau komunikasi.

Data merupakan informasi yang dapat dipercaya yang dihasilkan dari proses pengamatan dan pencatatan yang objektif. Data dapat diperluas pula dengan sesuatu yang dikenal sebagai kenyataan, atau sesuatu yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Interelasi antara data, informasi, ilmu pengetahuan dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

Dengan memperhatiakan itu, maka dapat dinyatakan di sini bahwa bukti fisik meliputi peristiwa, fakta, data, informasi yang dihimpun dengan cara melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi seperti melalui melalui percobaan di laboratorium atau kondisi terkontrol lainnya, seperti,  dari  pengalaman sendiri, pengalaman orang lain melalui observasi atau wawancara. Bukti fisik dapat diperoleh juga dari buku, majalah, koran, jurnal, atau internet.

Bukti fisik ilmiah dapat berbentuk data dan informasi yang membentuk pengetahuan. Selanjutnya pengetahuan digunakan sebagai dasar untuk menentukan kebijakan.

Bukti Fisik Pendidikan

Setiap orang tahu bahwa pendidikan berpengaruh terhadap individu maupun masyarakat. Jika suatu masyarakat menunjukkan kesejahteraannya yang baik, memperoleh penghasilan yang baik, tingkat produktivitasnya baik maka dipastikan bahwa anggota masyarakat itu berpendidikan baik.

Pendidikan yang baik ditunjukkan dengan berbagai bukti  fisik yang digali dari asumsi bahwa sekolah yang efektif adalah yang dapat menwujudkan kondisi sebagaimana  yang ditunujukkan dengan berbagai indikator seperti di bawah ini.

  1. Murid-muridnya belajar dengan baik  dalam lingkungan positif serta didukung oleh guru yang yakin bahwa setiap murid mampu belajar.
  2. Murid-muridnya memiliki  kekuatan dan menaruh perhatian terhadap hal yang berpotensi mengikatkan hasil belajar yang didukung oleh guru-guru yang efektif membangun suasana pembelajaran yang memberdayakan kekuatan dan mengarahkan perhatian siswa.
  3. Murid-muridnya mengembangkan keragaman keterampilan, kultur, dan bahasa yang didukung oleh guru yang memperhitungkan  dimensi kognitif, afektif, sosial, dan fisik siswa dalam program pembelajaran.
  4. Murid-murid mengembangkan kegiatan belajar berlandaskan  informasi yang telah dipelajari sebelumnya yang didukung dengan guru yang aktif dan interaktif memfasilitasi pembelajaran.
  5. Murid-murid belajar mengembangkan kapasitas diri secara individual dan sosial  yang didukung dengan guru yang mengintegrasikan semangat siswa berbasis budaya dan konteks sosialnya
  6. Murid-murid mengikuti pelaksanaan penilaian baik formatif sumatif sumatif yang berkelanjutan, memberikan pelajaran tentang apa yang sudah dikuasai dan belum dikuasainya serta mendapatkan penilaian nontes terhadap prilaku belajarnya agar murid mendapatkan umpan balik yang otentik.

Bukti fisik yang mendukung  berbagai pernyataan tersebut di atas sehingga kita mendapatkan kesimpulan bahwa fakta yang terdapat di sekolah sesuai dengan kondisi ideal sebagaimana yang diharapkan. Untuk menghimpun bukti fisik yang tepat yang dapat mendukung kesimpulan yang benar dapat menggunakan pertanyaan seperti di bawah ini.

  1. Apakah pembelajaran yang efektif itu selalu dapat diobservasi dan diukur?
  2. Kinerja siapa yang akan dievaluasi?
  3. Langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengevaluasinya?
  4. Apakah kita dapat menghitung bahwa kultur dan nilai-nilai sosial berdampak pada pembelajaran yang efektif?
  5. Apakah efektivitas pembelajaran selalu dipengaruhi dengan RPP yang lengkap dan terurai secara rinci?
  6. Mana yang lebih penting untuk diamati, keterampilan guru membuat perencanaan atau keterampilan guru belajar untuk menguasai materi pelajaran
  7. Variabel apa yang paling penting perlu diamati sehingga kita dapat menentukan bahwa efektivitas pembelajaran itu dapat diobservasi dan diukur?
  8. Apa yang sebaiknya guru mepersiapkan pembelajaran agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal?
  9. Peristiwa apa yang akan dihimpun datanya?
  10. Bagaimana menghimpunnya?

Berbagai pertanyaan di atas  merupakan alat untuk menggali substansi peristiwa, fakta, data, informasi yang tidak hanya sebatas bukti fisik kongkrit yang berwujud. Investigasi terhadap bukti pendukung tidak cukup dengan dokumen fisik yang dapat guru penuhi seperti adanya pedoman, panduan, silabus dan RPP, adanya sumber belajar yang tertulis tetapi memerlukan lebih dari itu. Bukti fisik  itu pasti harus kita himpun melalui pengamatan  sehingga bukti fisik dapat berupa:

  • Dokumen fisik berupa cetakan
  • Catatan Hasil pengamatan
  • Catatan Hasil wawancara
  • Hasil pengolahan data
  • Hasil  rekaman
  • Hasil pemotretan
  • Hasil investigasi dengan menggunakan pertanyaan “who”, “what”, “where”, and “when”.
  • Peristiwa interaksi guru dengan siswa.
  • Pernyataan harapan guru yang tinggi terhadap siswa
  • Prilaku guru dalam memperlakukan siswa

Data yang diperoleh secara eksploratif menjadi bahan penyusunan laporan dalam bentuk uraian deskriptif, gambar, grafik,  angka-angka yang menyatakan bahwa mutu yang berproses maupun hasil yang didapat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Berdasarkan uraian di atas, maka kita dapat menyatakan bahwa pendekatan yang selama ini dilakukan dalam menentukan bukti fisik yang menandai kemajuan pendidikan melalui kegaitan akreditasi dan evaluasi diri masih mencukpkan pengamatan terhadap bukti fisik yang kongkrit seperti mengamati fisik widiaiswara di depan kelas. Sementara kedalaman jiwanya, kejujurannya, kesabarannya, kepandaiannya, juga keterampilannya masih perlu digali melalui pengumpulan bukti fisik yang lebih dalam potret peristiwa, fakta, data, informasi yang sesungguhnya ada di sekolah dan tidak tampil dalam prilaku yang  selalu mudah diobservasi dan diukur.

GP; Published on: Nov 5, 2011

Referensi:

  • http://www.systems-thinking.org/dikw/dikw.htm

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments