Topik Utama »

May 7, 2013 – 10:18 am | 6 Comments | 1,701

Tulisan ini disusun sebagai bahan pelatihan kepala sekolah dalam mengembangkan perencanaan, merealisasikan rencana, memantau keterlaksanaan rencana dan pencapaian hasil, serta melaksanakan tindaklanjut perbaikan  melalui pelatihan perbaikan dokumen RKJM dan RKAS.
Ketangguhan utama kepala sekolah ada pada …

Read the full story »
Info

Merefleksikan realita dengan stuktur yang cerdas

Pembelajaran

Berilmu, terampil belajar, dan memecahkan masalah..

Pengelolaan

Realistis, konsisten, persisten dan bekelanjutan.

Daya Insani

Menciptakan ide, metode, layanan, dan produk baru.

Supervisi

Membantu kepala sekolah dan guru mewujudkan tujuan .

Home » Pembelajaran, Uncategorized

Mengintegrasikan Pengembangan Berpikir Ilmiah dan Pendidikan Karakter

Submitted by on July 28, 2011 – 4:00 pm7 Comments | 679

Karakter dalam kamus bermakna kompleksitas mental dan watak yang membentuk diri seseorang. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Pendidikan karakter berarti suatu sistem pembentukan dan pengembangan nilai yang diwujudkan dalam bentuk kompetensi atau tindakan yang dapat siswa tunjukkan sebagai hasil belajar yang merefleksika nilai-nilai yang diyakini oleh sekolompok masyarakat sebagai sesuatu yang berharga sehingga perlu wariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kementrian Pendidikan Nasional mengembangkan pendidikan karaker dalam bentuk disain besar yang meliputi Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.

Karena olah hati, oleh pikir, olah raga dan olah karsa dalam relitanya merupakan bagian dari daya yang teintegarasi secara kompleks yang membentuk pribadi, maka proses pembentukan pribadi yang berpengetahuan, berketerampilan, dan bersikap sebagai produk belajar tidaklah dipilah dalam unsur-unsur melainkan terintegari. Ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap terbentuk secara kompleks melalui pengalaman belajar seseorang yang terintegrasi seperti pada model di bawah ini.

Pada diagram  tergambar bahwa pendidikan karakter bukan hanya dipenuhi dengan nasehat, melainkan proses mental yang didasari dengan data atau informasi yang diserap seseorang sehingga membentuk pengetahuan.

Pengetahuan yang diyakini kebenarannya yang diperoleh dari proses belajar yang dikontruksi melalui proses pengalaman. Berdasarkan itu seseorang mengembangkan pengetahuan yang dikuatkan dengan keyakinan nilai-nilai kebenarannya sehingga menjadi dasar untuk membangun kaarifan diri sebagai landasan seseorang bersikap.

Konsep tersebut dapat diterampakan dalam contoh berikut; seseorang melihat data dan mendapat informasi tentang adanya Tuhan, data dan informasi itu diserapnya menjadi pengetahuan. Ketika pengetahuan itu dikomulasikan dan dia uji benar maka maka terbentuklah keyakinan. Keyakinan atas kebenaran itu, maka muncullah penyikapan diri. Dari sikap itu jika telah melekat secara permanen dalam dirinya, maka jadilah sikap mental atau watak.

Itulah sebabnya Koentjara Ningrat menyatakan bahwa sikap mental merupakan perpaduan antara produk belajar dengan sifat-sifat pembawaan seseorang.

Karena itu, pengembangan watak atau sikap seseorang tidak cukup dengan memberikan nasehat agar berlaku baik, melainkan harus terintegrasi dalam pengelolaan ilmu pengetahuan, sikap, dan ketarmpilan yang melekat menjadi ciri khas seseorang. Pengetahuan itu intinya. Karena itu, Tuhan meninggikan derajat orang yang berilmu. Dengan ilmu seseroang bisa berakhlak mulia.

Berdasarkan uraian singkat itu,  maka kita dapat memastikan bahwa keberhasilan program pendidikan karakter pada dasarnya bergantung pada keberhasilan sekolah dalam mengembangkan kapasitas keilmuan dan keterampilan siswa. Membangun keyakinan bahwa ilmu yang mbereka miliki benar, melatih untuk mengamalkan ilmu itu dalam praktek hidup sehari-hari.

Karena itu pula, untuk menunjang keberhasilan pendidikan karakter memerlukan data kongkrit berupa contoh dalam lingkungan sekolah, memerlukan pengkondisian sekolah yang menunjang tumbuhnya watak yang dikembangkan sebagai modal pengembangan potensi diri siswa melalui pengalaman menguasai ilmu, menerapkan ilmu dan melakukan pembaharuan diri berkelanjutan  dengan dukungan kecerdasannya.

Di bawah ini GP lampirkan model Pendidikan keterampilan berpikir ilmiah dan berkarater (266), materi pelajaran dapat guru pilih sesuai SK/KD yang relevan pada tiap mata pelajaran.

Referensi:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp

GP-Published on: Jul 28, 2011 @ 16:00

7 Comments »

  • Dini says:

    karakter juga terbentuk dari tauladan-tauladan orang dewasa disekitarnya…karena itu satu paket antara software dan hardware keduanya perlu berkarakter

  • fajar says:

    secara fitrah karakter sudah ada pada anak didik kita, orang dewasalah yang mencemari, yuk kita kembalikan karakter yang telah dianugerahkan Allah pada anak didik kita

  • admin says:

    setuju Bu Dini, di sinilah tugas pendidik yang paling mulia sehingga berat memenuhinya.

  • asaz says:

    pendidikan karakter harus dimulai sejak dini oleh orang tuanya guru di sekolah sebagai pendidikan formal tinggal melanjutkan

  • admin says:

    Setuju, pak. Yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan anak adalah orang tuanya. Hanya saja, banyak orang tua yang belum mampu mendidik anaknya dengan baik.

  • syamsir says:

    Dalam pendidikan berkarakter seharusnya guru membanahi diri agar ia memiliki karakter yang bisa ditauladani. Sesuatu yang tidak baik ia lebih dahulu menjauhinya, untuk yang baik ia sendiri memulainya. Ia bisa menjadi idola dalam kebaikkan di sekolahnya. InsyaAllah pendidikan berkarakter ini akan sukses di lapangan. Contoh untuk kita semua sebenarnya sudah ada yakni pada diri Rasulullah. ia melakukan terlebih dahulu sebelum ia memerintahkan orang lain. Demikian pula kejujuran, ia sampai ia dijuluki al amin. Maaf ya bukan menggurui, tapi sekedar berbagi ilmu dan pengalaman. semoga…

  • Zainal Abidin says:

    Pendidikan Karbang ideal dari suri tauladan orang dewasa seperti yang dicontohkan Ki Hajar Dewantara

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.


Facebook Comments