Dari Mana Perumusan Konsep Standardisasi Bermula

Standardisasi adalah syarat minimal yang harus dipenuhi dalam mewujudkan sesuatu menjadi bermutu. Batas minimal itu bersifat relatif, tinggi rendahnya sangat bergantung pada derajat minimal mutu yang dipersyaratkan, sifatnya juga dinamis karena batas minimal mutu yang telah ditentukan yang semula dipandang cukup dalam jangka waktu tertentu berubah menjadi tak cukup lagi..

Jika kriteria pencapaian minimal telah dipandang kadaluarsa oleh pemakainya, maka kriteria mutu pun digeser lebih atas lagi. Ini menyiratkan bahwa nilai mutu sangat pendek dan terus dapat bergeser sejalan dangan berkembangnya kehidupan dan peradaban.

Standar adalah penyeragaman. Standar adalah pembatasan. Dilihat dari dimensi ini penerapan standar itu kaku dan mengikat. Di sisi lain, standar yang penuh kriteria adalah kebebasan untuk menambah kriteria baru yang lebih baik atau meningkatkan derajat kriteria dengan batas pencapaian yang lebih tinggi. Luar biasa, dalam satu bidang berdimensi mengikat dan sekaligus kebebasan.

Toleransi?.Kebervariasian? Boleh. Asal segala sesuatunya bertambah baik dan tak keluar dari koridor yang seharusnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah “Dari mana konsep pemikiran standar itu berasal? “Ahli dari mana yang mengajari kita menciptakan dan menerapkan standar?”

Jawabnya tegas. Ternyata kosep itu yang pasti datang dari Allah, Allah yang mengajari manusia untuk membandingkan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Lihat pada Surah Al Isro : 15 “Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri.”

Dari kajian itu diperolah juga metode yang melekat dalam penerapan ” standar” yaitu “pengukuran”. Menentukan pemenuhan standar adalah menghitung jumlah kriteria yang terpenuhi dibandingkan dengan kriteria dalam ketentuan. Perhatikan firkan Allah ” “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu (Al Isro: 14)

Setelah membaca itu, kekaguman saya pada seorang ahli mutu yang demikian apik telah merumuskan pikiran yang sangat mendasar mengenai standar, kini berubah. . Malam ini kekaguman itu bergeser kepda pecipta Al-Quran yang menjadi sumber utama sistem berpikir yang melandasi penerapan standar dalam sistem perbaikan mutu berkelanjutan pada peradaban manusia masa kini.

Dalam standar ada ketentuan yang seharusnya ada krieria pemenuhan dan ada pengukuran. Wallohu alam.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments