Topik Utama »

March 17, 2012 – 3:14 pm | 794

Saat ini sedang sedang berproses identifikasi  indikator pemenuhan standar pendidikan dan tenaga kependidikan. Produk dari proses adalah indikator operasional yang bermakna dan menjadi dasar penentuan kebijakan peningkatan mutu kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Hasil identifikasi …

Read the full story »
Berita

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam,.

Pembelajaran

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam,.

Pengelolaan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam,.

Daya Insani

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam,.

Supervisi

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam,.

Home » Pengelolaan

Panduan 3: Pendekatan Proses dalam Penyusunan RKJM Sekolah

Submitted by on January 13, 2010 – 3:30 pm5 Comments | 2,099

Tulisan ini disusun sebagai bagian dari rangkaian  konsep yang mendasari penyusunan rencana jangka menengah sekolah (RKJM) atau renstra sekolah. Pada tahap ini akan dibahas  langkah-langah teknis perumusan  rencana kegiatan dengan mempertimbangkan penerapan salah satu pendekatan yaitu  pendekatan proses.

Pendekatan proses merupakan bagian dari sistem teori tentang  pengelolaan organisasi yang terintegrasi dalam sistem perencanaan dan pelaksanaan perbaikan mutu.

Pendekatan proses juga  merupakan strategi untuk meningkatkan daya saing organisasi melalui peningkatan  mutu  sehingga memiliki kekuatan  dalam menghadapi tantangan global. Keberhasilan meningkatkan daya saing sekolah tentu tidak hanya bergantung pada proses pelaksanaan program, namun juga  sangat bergantung  pada kualitas kepemimpinan, sistem manajemen, pendidik dan tenaga kependidikan, proses pengelolaan pembelajaran, mutu kompetensi lulusan yang dapat sekolah hasilkan, dan mutu pelayanan.

Mutu kompetensi lulusan adalah poros utama akuntabilitas sekolah. Program yang efektif  adalah yang menetapkan harapan mutu  yang tinggi. Sekolah dapat menghasilkan mutu lulusan yang memiliki keunggulan daya saing. Sekolah dapat memfasilitasi siswa agar lebih adaptif dan transformatif mengikuti tantangan perubahan.

Lebih daripada itu, sekolah juga harus memenuhi harapan orang tua dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah, semakin kritis. Oleh karena itu target tertinggi sekolah idealnya yang paling memungkinkan siswa memiliki daya saing yang sesuai dengan harapan orang tuanya.

Untuk menghasilkan lulusan dengan mutu setinggi, sekolah  perlu melakukan perbaikan pengelolaan dan  proses belajar secara terus menerus. Pengelola perlu menggunakan waktu yang ketat, pengalokasian sumber sarana, serta biaya yang efisien, meningkatkan mutu pelaksanaan pembelajaran yang  memenuhi prosedur pedagogis,  inovatif dan transformatif pula.

Keberhasilan sekolah bergantung pada tangan orang-orang professional yang menguasai ilmu dan  menerapkan ilmu, serta terlatih melaksanakan pekerjaannya dengan baik.

Masalah

Perbaikan mutu proses pengelolaan dan pembelajaran melalui proses peningkatan mutu perencanaan, pelaksanaan, dan  pemantauan belum berjalan efektif.

Mutu hasil masih lebih mendapat perhatian dalam pengelolaan sekolah. Pengabaian proses terlihat pada kurang efektifnya kinerja pengawasan sekolah. Perangkat penilaian kinerja mana pun, termasuk yang dilaksanakan BSNP masih terjebak dalam penelusuran data output buka pada proses. Dampak dari kelemahan itu, sistem dokumen yang merekam  perkembangan kinerja  proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah belum terintegrasi pada proses nyata secara empirik.

Daya rekam sekolah terhadap perkembangan kinerja proses seperti pada implementasi konsep pedagogis dalam kelas juga kurang optimal. Hal ini terlihat pada dokumen produk supervisi kepala sekolah. Mutu proses pembelajaran berstandar belum terpoyeksikan pada konsep dan hasil pemantauan.

Daya rekam sekolah dalam penerapan strategi belajar inovatif, kreatif dan transformatif sebagaimana yang diharapkan dalam standar masih menjadi tantangan besar. Pengukuran mutu proses masih banyak berkembang sebagai bahan diskusi kebijakan belum menjadi realita dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di sekolah .

Landasan Teori

Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam pengembangan perencanaan jangka menengah perlu didasari dengan konsep pendekatan  proses. Peningkatan mutu memerlukan proses yang baik sejak awal perencanaan,  baik dalam pelaksanaan, baik dalam pemantauan, dan baik dalam  tindak perbaikan. Mutu memerlukan sistem pemantauan berkelanjutan untuk mengetahui keterpenuhan standar.

Efektivitasnya pengelolaan mutu disarankan Deming (1986) dikembangkan dalam bentuk siklus sebagaimana yang dijelaskan pada teori TQM (Total Quality Management). Prinsip-prinsip penting proses peningkatan mutu menurut Deming adalah dengan melalui tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan tujuan yang jelas yang ditandai dengan indikator pencapaian dan kriteria yang terukur.
  2. Menyelenggarakan sistem pembinaan dengan menggunakan prosedur operasional standar.
  3. Melaksanakan pembinaan dengan materi yang didisain khusus untuk meningkatkan pemahaman mengenai pengetahuan dan keterampilan pengelola sekolah dalam meningkatkan mutu dan penjaminan mutu.
  4. Melakukan perbaikan berkelanjutan.
  5. Melaksanakan perbaikan mutu sebagai budaya.

Deming  juga merumuskan  tahap-tahap kegiatan yang sangat populer dengan mendeskripsikan proses pengelolaan mutu dalam bentuk siklus PDSA atau Plan-Do-Study-Act. Empat tahap kegiatan itu meliputi :

  1. Plan – Perencanaan yang berisi sejumlah strategi dan rancangan kegiatan dengan tujuan,  strategi, indikator, target mutu yang terdefinisikan dengan jelas, mengambarkan  kondisi nyata dan kondisi yang diharapkan, serta hasil analisis lingkungan dan analisis potensi.
  2. Do – Pelaksanaan berisi kegiatan yang meliputi tindakan uji coba dan menerapkan rencana dalam tindakan.
  3. Studi- Pengkajian melalui kegiatan monitoring untuk memastikan bahwa seluruh proses kegiatan sedang mengarah pada pencapaian tujuan.
  4. Act -Tindak Lanjut atau Penyempurnaan Kegiatan, yaitu mencocokan hasil yang dicapai dangan standar yang ditetapkan serta melakukan perbaikan mutu jika dipandang perlu.

Monitoring proses dapat dilaksanakan dengan beberapa cara seperti berikut ini :

  1. Melaksanakan pemantauan untuk memastikan bahwa pelaksanaan mengarah pada pencapaian tujuan.
  2. Mengevaluasi kinerja sekolah dalam sistem pengelolaan sehingga tenaga administrasi sekolah (TAS) juga mendapat pemantauan yang efektif.
  3. Mensupervisi proses belajar untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip pedagogis berproses dalam pembelajaran di kelas.
  4. Mengevaluasi bahwa proses penilaian berjalan memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Empat tahap kegiatan dalam diagram siklus manajemen peningkatan mutu dapat dideskripsikan lebih lanjut dalam 7 tahap sub kegiatan sebagai berikut:

Siklus Pengelolaan Mutu2

Gambar Siklus Plan-Do-Study-Act

Proses perbaikan mutu yang dideskripsikan pada gambar di atas selanjutnya perlu dijabarkan dalam tahap-tahap kegiatan pada rencana jangka menengah yang terbagi dalam siklus semesteran, siklus tahunan, dan siklus empat tahunan.

Hal yang paling mendasar dalam sistem pendekatan proses ini adalah sekolah memiliki tujuan yang jelas sehingga mencerminkan kualitas yang tinggi, memiliki keyakinan bahwa harapan yang tinggi dapat diwujudkan, dan memantau bahwa proses pengelolaan dan pembelajaran berproses sesuai target sehingga akhirnya sekolah dapat menghasilkan lulusan sesuai dengan standar.

Pendekatan proses dalam sistem pengelolaan sekolah dan penyelenggaraan pembelajaran belum menjadi bagian dari kultur perbaikan mutu berkelanjutan di sekolah. Hal tersebut dapat dilihat pada pelaksanaan supervisi yang dilakukan kepala sekolah belum terintegrasi dalam siklus perbaikan mutu proses.

Kepala sekolah maupun pengawas melaksanakan supervisi secara periodik, namun belum terintegrasi dalam satuan program perbaikan proses berkelanjutan. Antara satu satuan kegiatan supervisi belum menjadi rangkaian program yang terstruktur sehingga hasilnya membentuk segmen-segmen hasil pemantauan  yang terpisah antara yang satu dengan yang lainnya.

Hal ini dapat terjadi karena sistem pemantauan yang saat ini lebih populer dengan istilah sistem  penjaminan mutu belum menjadi bagian yang terstruktur dalam program sekolah.

Untuk mengatasi masalah tersebut idealnya sekolah menyusun rencana jangka menengah dengan menerapkan pendekatan proses perbaikan mutu. Pada pengembangan program hendaknya  meliputi perbaikan mutu pada empat tahap yaitu perbaikan mutu perencanaan, pelaksanaan,  dan pemantauan untuk memastikan bahwa proses berjalan sesuai dengan standar, dan menganalisis hasil pemantauan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Dalam rencana jangka menengah sebaiknya terprogram upaya perbaikan mutu pada proses dan hasil.

Kelemahan  sekolah untuk merekam kinerja proses terutama melalui kegiatan supervisi kelas perlu penanganan yang sungguh-sungguh dengan lebih banyak mengerahkan kekuatan internal sekolah yaitu memperlakukan guru-guru sebagai pakar pemantau mutu proses.

Untuk mengatasi masasalah itu, maka sekolah perlu mengembangkan rencana kerja jangka menengah sebagai siklus perbaikan mutu yang meliputi kegiatan:

  1. Perumusan visi, misi, tujuan, indikator mutu lulusan.
  2. Mendeskripsikan target mutu lulusan yang terukur dengan didukung oleh target mutu pada tiap standar sehingga  memfasilitasi terwujudnya mutu lulusan.
  3. Menetapkan standar proses untuk mewujudkan target lulusan.
  4. Memantau dan menyusun dokumen atau administrasi yang mencatat perkembangan proses.
  5. Melakukan perbaikan proses dengan melibatka sumber daya eksternal maupun sumber daya internal sekolah.
  6. Mengolah hasil pemantauan untuk memastikan bahwa proses berjalan sesuai dengan target.
  7. Menghimpun data dari kelima tahap itu sebagai bagian dari sistem informasi sekolah sebagai bahan pengambilan keputusan dalam melakukan perbaikan berikutnya

Kesimpulan:

Penerapan pendekatan proses merupakan bagian yang amat strategis dalam sistem perbaikan mutu pendidikan di sekolah. Salah satu strategi dalam penerapannya adalah menggunakan pendekatan proses sebagai upaya melakukan perbaikan mutu berkelanjutan. Untuk dapat melaksanakan proses perbaikan itu, sekolah perlu mengembangkan rencana jangka menengah yang menerapkan perbaikan mutu berkelanjutan dengan titik berat  pada tindakan.

Referensi:

Deming, W. Edwards. 1986. Out of the Crisis. MIT Center for Advanced Engineering Study.

The Deming Cycle. http://www.quality-improvement-matters.com/deming-cycle.html

Artikel Terkait :

Panduan 2 : Pendekatan Pedagogis dalam Merumuskan Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM)

Panduan 1: Merumuskan Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM)

Panduan 4: Penyusunan RKJM Sekolah Melalui Pendekatan Sistem

Strategi Pengembangan Mutu Lulusan Yang Inovatif

Guru Pembaharu

Tags: , , , , ,

5 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.