Belajar dari Pohon dan Pengamen

Malam itu saya duduk di bis dari Kampung Rambutan menuju ke Bogor. Lelah menggelayut di pelupuk mata. Saat masuk tol jagorawi seorang lelaki mengucapkan salam persis di samping tempat duduk yang saya tempati. “wah malam-malam begini ada pengamen, bau keringat menggangu pula, sialan” hatiku mengerutu. Kehendak memejamkan mata lepas sudah.

Syukurlah dia tidak membawa gitar seperti kebiasaan pengamen, tapi sejurus kemudian ia mengucap salam dan minta maaf karena menggangu suasana perjalanan dan istirahat para penumpang.

Dari mulutnya meluncurkan kata-kata, bukan sebuah lagu, tapi cerita. Berkisah tentang dialog seorang anak dengan bapaknya. Tentang nasib buruk keluarganya yang serba kurang sehingga tidak ada keinginan yang  bisa dipenuhi oleh orang tuanya, pahit dan getir menjadi bagian dari kesehariannya.

Anak : “Ayah, mengapa orang-orang tak ramah kepada kita padahal kita sudah berusaha berbuat baik kepada mereka?”.

Bapak : “Sabarlah, karena Gusti Allah pasti memberikan jalan yang terbaik bagi orang-orang yang sabar, yang penting kita harus tetap berbuat baik, terus saja berbuat baik.”

Anak : “Ah, Bapak bisanya hanya bilang sabar dan selalu berbuat baik” Sambil menahan rasa kesal karena terlalu sering mendengarkan kata-kata itu dari Bapaknya. “Sampai kapan kita harus bersabar, semut saja kalau diinjak terus pasti menggigit, sekali-kali kita lawan orang-orang yang selalu merendahkan martabat kita, kita bangkit melawan….”

Bapak : “Anakku, kita ini manusia, bukan hewan, kalau hewan wajar saja berprilaku seperti itu karena ia tidak diberikan akal untuk berpikir, tapi kita ini manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna, maka jika kita berprilaku seperti itu sama saja kita merendahkan diri kita seperti binatang. Bahkan lebih rendah lagi karena kita telah diberikan akal untuk berpikir. Biarlah orang lain berbuat seperti itu, tapi kita jangan, balaslah cacian dan cemohoan orang dengan kebaikan, kita harus bersabar, dan belajarlah kepada pohon-pohon yang ada disekeliling kita untuk bersabar”

Anak : “Ah, Bapak berbicara tambah aneh saja, saya jadi tidak mengerti  dengan apa yang Bapak pikirkan!”.

Pengamen pun berkisah,  anak itu tersenyum meninggalkan bapaknya dan bapaknya  tersenyum melihat tingkah anaknya.

Dalam hatinya ia bingung dengan apa yang dikatakan ayahnya. Masa kita harus belajar kesabaran kepada pohon yang tidak bergerak, apanya yang harus dipelajari ?

Pikiran anak itu heran dengan nasihat ayahnya. Ia memperhatikan tanaman-tanaman yang ada dilingkungannya. Namun, ia tetap tidak bisa mengambil pelajaran kesabaran apa dari sebuah pohon.

Pada satu  ketika, tatkala sedang menunggu ayahnya sakit ia bertanya.

Anak : “Ayah, apa yang ayah maksudkan bahwa kita harus belajar sabar dari pohon ?”

Ayah : “Cobalah engkau perhatikan pohon-pohon yang ada disekitar kita, nak,… berapa banyak orang yang memperhatikan pohon-pohon yang ada di lingkungannya? Tidak,tidak banyak, malah sebaliknya, banyak orang yang  merusaknya.

Pohon-pohon yang ada ditaman dikerdilkan, batang pohonya dipatahkan, diinjak-injak dan di bakar, namun ia tetap tumbuh dalam diamnya. Ia tidak mengeluh kepada orang-orang yang meruksaknya, padahal ia telah memberikan oksigen yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk bisa hidup.

Pohon tidak pernah menuntut balas jasa sedikitpun atas pengorbanannya, tidak pula ia meminta untuk dipuji dan disanjung namun ia tetap tumbuh dan bekerja dan memberikan manfaat buat lingkungannya.

Berapa banyak buah-buahan dan sayuran yang telah kita nikmati dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kita. Cobalah engkau pikirkan wahai anakku.

Anak : “Oh, jadi itu yang ayah maksudkan, tapi apakah ada orang yang mau sabar seperti prilaku pohon? Saya pikir tidak aka ada orang yang mau sabar seperti itu ?

Ayahnya hanya diam mendengar pertanyaan anaknya, sambil menutup matanya ia kemudian mengucapkan “La ilaha illallah” dan setelah itu Ayahnya terbujur kaku.

Itulah kisah yang pengamen tuturkan  dalam separuh perjalanan  bis Jakarta ke Bogor. Cerita yang sangat luar biasa, membuat sebagian besar penumpang terlelap kelelahan. Dan, ia pun bersabar seperti pohon,  mengembangkan tangannya seperti daun, sabar meminta keihlasan penumpang yang yang tak begitu banyak meneteskan recehan seperti air hujan yang tumpah dari langit membawa kesuburan.

Ketika turun dari bis  saya melihat pengamen itu memberi sebagian yang ia peroleh kepada  seorang peminta-minta.Ia, seperti pohon, meneduhi satu orang yang sedang kehausan.

Malam pun larut, daun-daun pun merunduk diam, sunyi, menyaksikan bulan yang kesepian melintasi kota Bogor yang dulu penuh dengan anak-anak yang sukacitanya di malam purnama.

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments

2 comments

sungguh terharu saya membacanya, saya juga merasakan apa yang bapa alami ketika setiap naik bis umum. potret kehidupan.

I’d have to agree with you on this. Which is not something I typically do! I love reading a post that will make people think. Also, thanks for allowing me to comment!