Bagaimana Menerapkan Model Pembelajaran Diskoveri-Inquiri?

Apakah Diskoveri-Inquiri?

Tulisan ini saya susun setelah mendapat pelajaran dari para guru dalam pelaksanaan kunjungan kelas dari satu SMA ke SMA lain untuk memantau kinerja guru melaksanakan proses pembelajaran. Terima kasih kepada para guru yang telah berusaha tampil baik memfasilitasi siswa dengan menerapkan CBSA pada sekolah-sekolah yang masih menggunakan K06 dan menerapkan model pendekatan saintifik yang menggunakan K13. Keunggulan guru-guru tampak pada:

  1. Pembelajaran diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya atau mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.
  2. Menyajikan materi pelajaran dengan ringkas dalam bentuk penayangan, namun kesiapan seperti ini sering menjebak guru menjadi sumber belajar yang membuat siswa pasif di awal pembelajaran.
  3. Iteraksi guru dengan siswa intensif, seperti saling bersahutan, guru bertanya-siswa menjawab, siswa bertanya – guru menjawab, pola ini melemahkan komunikasi multi arah.
  4. Diskusi kelompok telah menjadi ajang kerja sama siswa dalam mengerjakan tugas.
  5. Kegiatan presentasi, interaksi melibatkan seluruh siswa.

Lebih dari itu, para guru telah mencapai target pencapaian kompetensi secara umum tercapai yang ditandai dengan pencapaian ketuntasan. Namun demikian, guru-guru berkesulitan dalam memulai pembelajaran dengan mengembangkan interaksi siswa terhadap fenomena baru, tindakan baru, kejadian baru atau menerapkan  keterampilan berpikir tinggi sebagai dasar untuk merumuskan masalahnya sendiri.  Masalah utama guru tampak pada

  1. Lebih banyak  memposisikan diri sebagai sumber belajar daripada menjadi fasilitator yang mendorong siswa menemukan masalah baru dan  memecahkan masalah dengan ide-ide baru.
  2. Belum optimal dalam meningkatkan ketermplan siswa dalam merumuskan masalah pada awal pembelajaran.
  3. Kerja kelompok mengembangkan masalah dan memecahkan masalah bersama-sama, meneroka fenomena, mengolah data, menafsirkan, berkarya.,  melainkan  untuk mengerjakan tugas.
  4. Lebih mementingkan penguasaan pengetahuan daripada meningkatkan keterampilan berpikir kritis.
  5. Belum optimal dalam meningkatkan kemandirian siswa menghimpun data, fakta, informasi, ilmu teori  untuk memecahkan masalah secara kolaboratif.
  6. Kegiatan penarikan kesimpulan dan refleksi pada umumnya dilakukan oleh guru dan siswa sebagai pendukung 

Landasan Teori

Ahli psikolog dan ahli teori pembelajaran kognitif, Jerome Bruner (1967), pertama kali mengungkap tentang  pentingnya menerapkan prinsip-prinsip diskoveri dalam pembelajaran. Penerapannya merupakan cara mengembangkan pengetahuan siswa berdasarkan pengalaman sebelumnya. Prinsip tersebut sesuai dengan teori pembelajaran konstruktivisme serta relevan dengna teori yang sudah ada sebelumnya yang dikembangkan oleh John Dewey, Jean Piaget, dan Lev Vygotsky. Semua menyarankan agar  siswa dapat menemukan sesuatu dalam pembelajaran dan berfungsi menjadi  pendorong  siswa aktif. Aktivitas utamanya adalah mengeksplorasi konsep dan menjawab pertanyaan yang dikembangkan dari pengalaman belajarnya.

Discovery menurut kamus Cambridge adalah proses penemuan informasi, tempat, atau objek untuk pertama kali ditemukan, atau sesuatu yang pertama kali ditemukan, seperti penemuan listrik[1]. Perjalanan, penelitian, lintas hutan, menyusuri sungai, mengarungi lautan, atau kegiatan meneroka alam sehingga menemukan sesuatu yang baru, maka pengalaman seperti termasuk dalam diskoveri. Istilah baru bagi siswa berbeda dengan baru untuk para penemu besar dalam bidang ilmu pengetahuan, baru untuk siswa adalah sesuatu yang relatif asalkan sebelumnya belum pernah mereka ketahui.

Inquiry pada kamus yang sama bermakna proses bertanya atau pertanyaan. Contoh penggunaan dalam kalimat:  Siapa yang akan memimpin penyelidikan atas kecelakaan itu? Penelitian telah menemukan bukti penyalahgunaan dana. Harus ada penyelidikan resmi atas insiden tersebut. Dihubungkan dengan berbagai contoh itu, maka Inquiry-based learning  adalah model pembelajaran aktif yang dimulai dengan mengajukan pertanyaan atau perumusan masalah. Prosesnya bukan hanya menyajikan fakta-fakta yang mapan. Alurnya menggambarkan usaha sungguh-sungguh untuk memperoleh pengetahuan baru. Pada kenyataannya siswa sering dibantu oleh guru.[2]

Pembelajaran berbasis inquiri mencakup pembelajaran berbasis masalah.  Pembelajaran dengan menggunakan model inquiri pada umumnya  digunakan untuk penelitian atau proyek skala kecil.  Kegiatannya berkaitan erat  dengan pengembangan dan praktik keterampilan berpikir. Penemuan diperoleh dengan melakukan pengamatan terhadap peristiwa baru, tindakan baru, atau kejadian baru dengan menerapkan penalaran baru. Maksudnya tak ada lain untuk menjelaskan pengetahuan melalui proses pengamatan. Yang perlu diperhatikan di sini,  kebaruan bagi siswa itu relatif, tak perlu benar-benar baru, namun cukup dengan yang belum siswa ketahui sebelumnya.

Dengan penjelasan itu kita memperoleh pemahaman bahwa model pembelajaran diskoveri dapat diwujudkan dalam bentuk belajar dalam kelas maupun di luar kelas. Di dalam kelas siswa dapat menelaah sumber bacaan, memutar filem atau video, membaca diagram atau membaca grafik. Pembelajaran di luar kelas dapat dilakukan untuk menghimpun data dari proses meneroka alam sekitar lingkungan sekolah, lintas alam, mengunjungi objek wisata, melakukan kunjungan ke museum, ke toko swalayan, ke pasar, ke keramaian lalulintas kendaraan sehingga dengan pengalaman itu siswa untuk pertama kali menekan hal baru. Peningkatan keterampilan berpikir kritisi bagian penting dalam pe Jika sebelum melaksanakan perjalanan belajar siswa telah dibekali dengan masalah atau pertanyaan, maka proses pembelajaran disebut dengan model diskoveri berbasis inquiri.

Merencanakan Penerapan Model Diskoveri

Melaksanakan model discoveri hendaknya memenuhi lima kiat berikut [3]

  1. Mengangkat masalah dari dunia nyata, dari kehidupan siswa, dari yang dengan siswa, atau yang siswa alami. Pengalaman belajar siswa peroleh diupayakan untuk mendorong meningkatkan kemandirian  siswa dalam memecahkan masalahnya.
  2. Memulai belajar dengan menggunakan pikiran untuk merumuskan pertanyaan. Belajar dimulai dengan berinteraksi dengan lingkungan dan merumuskan pertanyaan.
  3. Tempatkan pengetahuan siswa dalam dunia yang praktis. Siswa belajar menggunakan ilmu pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah yang bermanfaat untuk kehidupannya.
  4. Kembangkan kegiatan meneroka untuk dengan menghimpun teori dan pengalaman orang lain dalam pencarian pada bidang yang sama sebagai referensi. Selanjutnya bimbinglah siswa secara pribadi atau kelompok untuk melakukannya
  5. Respon segera miskonsepsi atau kekeliruan dalam merumuskan masalah yang keliru dengan segera.

Para guru sangat paham tentang pemaknaan diskoveri berbasis inquiri jika mengenang kembali pengalaman saat menyusun skripsi yang dibimbing oleh dosen.  Hanya saja yang perlu mendapat perhatian bahwa dalam proses pembelajaran inquiri bagi siswa lebih menekankan pada peningkatan keterampilan berpikir pada kasus, simulasi, atau proyek dalam skala yang kecil yang dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Misalnya, dua jam pelajaran.

Bagaimana Merumuskan Masalah dan Memecahkan Masalah

 Memulai pembelajaran dengan model inkuiri dapat guru lakukan dengan langkah sebagai berikut:

Apersepsi

  1. Guru menyampaikan informasi tentang kompetensi yang harus dicapai para siswa
  2. Mengaitkan materi pelajaran dengan materi sebelumnya.
  3. Mengaitkan materi pelajaran dengan kebutuhan nyata hidup siswa.
  4. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok

Inti

  1. Guru menyampaikan informasi tentang tugas kelompok, proses kerja yang harus dipatuhi, dan hasil yang harus diwujudkan (skenario pelaksanaan kegiatan belajar)
  2. Siswa berintraksi dengan lingkungannya melalui penayangan slide, video, gambar, grafik, informasi baru, produk baru, ide baru dengan tugas selama penayangan siswa mencatat fakta penting yang menarik minat untuk mereka pelajari.
  3. Siswa menulis fakta, data, informasi, ide baru yang mereka peroleh dari hasil pengamatan.
  4. Siswa merumuskan masalah yang mereka kembangkan dari proses pengamatan pada secarik kertas (seperti: post it) agar seluruh siswa dipastikan menanya.
  5. Siswa menyeleksi masalah yang akan mereka bahas dalam kelompok dengan difasiltasi guru.
  6. Siswa selanjutnya mencari informasi, ilmu pengetahuan, pengalaman orang, untuk menambah  pengalamanan atau pengetahuan baru sebagai dasar  memecahkan masalah.
  7. Siswa mengolah, menganlisis, menafsirkan data hasil eksplorasinya untuk memecahkan masalah, menarik kesimpulan, hingga berkarya
  8. Siswa menyajikan hasil karya dengan cara berkunjung kelompok lain, atau kepada kelas untuk mendapat tanggapan.
  9. Guru menilai aktivitas dan karya siswa.

Penutup

  1. Siswa menyimpulkan dan menyampaikan informasi tentang pengetahuan baru, pengalaman berpikir kritis, atau menilai karya yang berbeda daripada sebelumnya dengan difasilitasi guru.
  2. Siswa menyampaikan ide baru tentang rencana yang akan dilaksanakan kelak jika sudah hidup di masyarakat dengan ilmu yang diperolehnya saat itu.

Pada Kritik terhadap penerapan model diskoveri

Pada bagian akhir tulisan ini, para guru hendaknya memperhatikan yang mengkritik penerapan model diskoveri  menyatakan bahwa;

  1. siswa berpotensi untuk terlalu banyak menggunakan ilmu pengetahuan,
  2. siswa berpotensi terjebak dalam miskonsepsi, dan
  3. guru tak mudah meneroka masalah maupun miskonsepsi siswa.

Oleh karena itu, guru harus lebih komunikatif, cermat, dan kooperatif dalam melaksanakannya.

Semoga bermanfaat.

Salam pendidikan.

[1] https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/discovery

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Inquiry-based_learning

[3] https://elearningindustry.com/tips-integrate-discovery-learning-activities-instructional-desig?

Pendukung Kegiatan ; heejoubags.com

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments