Manajemen Perubahan: Panduan Praktik di Sekolah

Kepemimpinan

Apakah Manajemen Perubahan

Manajemen perubahan adalah perancangan manajemen guna melakukan perubahan berencana dengan cara bekerjasama dengan orang-orang dalam organisasi agar organisasi adaptif terhadap perubahan lingkungan agar mencapai tujuan  yang telah ditentukan.

Perubahan dapat berubah menjadi gerakan perubahan atas inisiatif seseorang penggerak. Perubahan bisa lebih berdaya karena belajar. Belajar,  menurut Buchanan and Huczynski (1985) dalam Esther dan Mike (2000), merupakan “proses penyingkapan pengetahuan melalui pengalaman yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Belajar yang benar tak barakhir pada menguasai pengetahuan, melainkan berlanjut dengan menerapkan pengetahuan  dalam bentuk tindakan yang menghasilan sesuatu dan  membuat yang ada di dunia ini berubah.

Perubahan dapat digerakan oleh individu kepala sekolah jika ia selalu belajar. Dampak dari pengetahuannya yang terus berubah, maka ia dapat mempengaruhi tim kerjanya untuk berubah. Pernyataan itu  memuculkan pertanyaan. Apakah itu tim? Menurut Morgan et al (1986) dalam Ester and Mike menyatakan bahwan tim adalah sekelompok orang yang terdiri atau dua orang atu lebih yang berinteraksi dan saling bergantung satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan bersam.  Sundstrom, de Meuse dan Futrell (1990) mendefinisikan tim kerja sebagai ‘Sekelompok kecil orang yang berbagi tanggung jawab untuk hasil sesuatu bagi organisasi mereka

Dalam mewujudkan sekolah yang adaptif terhadap perkembangan jaman,  banyak banyak pekerjaan yang harus dihadapi oleh warganya. Jika diurai, terdapat bagian-bagian kecil perkerjaan yang harus dilakukan dalam satu secara bersama-sama, namun banyak pula pekerjaan yang harus diselaikan secara individu di tempat terpisah dan dalam waktu yang berbeda-beda. Di sini diperlukan peran kepala sekolah sebagai manajer, yang mampu mengarahkan, memotivasi, dan memastikan semuanya bekerja dan mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan bersama. Penjelasan singkat ini menggambarkan bahwa untuk mendukung proses perubahan kerja sama tim di sekolah sangat penting dan  kerja individu juga sangat menentukan. Kecepatan perubahan sekolah sangat bergantung pada daya kepala sekolah mengembangkan warga sekolah menjadi individu pembelajar  sehingga membentuk komunitas pebelajar

Bagaimana Merancang Perubahan?

Menurut Wheelen, Thomas L dan Hunger David (1995) empat hal yang perlu mendapat perhatian dalam merancang perubahan yaitu:

  • Pertama menganalisis lingkungan atau  konteks perubahan. Berdasarkan hasil analisis konteks  menentukan kebutuhan pengembangan. Dalan Penerapan konsep ini diterpakan dalam pengembangan sekolah, maka fokus utama kepala sekolah adalah menentukan kompetensi  yang siswa perlukan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Setelah data kebutuhan terhimpun  kepala sekolah hendaknya menentukan masalah kebijakan perubahan sekolah.
  • Kedua, merumuskan strategi  yang meliputi penentuan visi-misi, tujuan, indikator, dan cara untuk mencapai tujuan.  Berdasarkan teori ini, perencana harus memastikan bahwa usahanya mengarah pada pencapaian visi-misi, memahami  program yang akan dilaksanakan, jelas tujuannya dengan indikator keberhasilan yang terukur, serta strategi yang dipertimbangkan dengan cermat  untuk mencapai  tujuan  organisasi.
  • Ketiga, merumuskan program dan anggaran, serta melaksanakannya. Pada tahap ini kepala sekolah perlu memastikan bahwa rencana kegiatan dirumuskan, dokumen program digunakan sebagai acuan, memastikan proses kegiatan sesuai dengan rencana, dan waktu pelaksanaan  sesuai dengan perhitungan jadwal.
  • Keempat, menjamin bahwa pelaksanaan program memenuhi target proses dan hasil yang telah ditentukan. Kepastian ini dibuktikan dengan cara menghimpun data mengolah perkembangan pekerjaan dan hasil pekerjaan. Karena itu, salah satu tugas kepala sekolah terpenting adalan melaksanakan pelaksanaan supervisi dan mengolah hasilnya sebagai dasar memperbaiki proses dan mengukur keberhasilan.

Secara umum keempat langkah itu berkaian dengan sistem penjaminan mutu. Berkaitan dengan sistem penjaminan mutu, Prof. Deming mengembangkan dalam model siklus dengan konsep yang terkenal yaitu model  PDCA (Plan, Do, Check, dan Act), yaitu rencanakan, laksanakan, pantau, dan lakukan perbaikan.

Adapun siklus PDCA tampak seperti berikut:

Siklus PDCA

Gambar menunjukkan bentuk siklus  mengandung makna keempat pekerjaan itu merupakan kegiatan berkelanjutan. Penjaminan mutu terjadi pada saat perencanaan, pelaksanaan, mengotrol dan pelaksaaan perbaikan. Apabila sistem ini diterapkan dalam manajemen perubahan, maka kepala sekolah memiliki peran penting untuk menghimpun data dalam proses kegiatan. Dengan terwujudnya proses yang berkunggulan diharapkan akan menuai hasil yang lebih baik.

Mengapa Manajemen Perubahan?

Kurikulum 2013 (K13) adalah kurikum berbasis kompetensi. Acuan standar kompetensi lulusan (SKL) diatur dalam Permendikbud nomor 20 tahun 2016. SKL SD, SMP, dan SMA atau SMK, pada ranah  sikap memiliki irisan kesamaan yang dominan, semua level pendidikan diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:

  1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,
  2. berkarakter, jujur, dan peduli,
  3. bertanggungjawab,
  4. pembelajar sejati sepanjang hayat, dan
  5. sehat jasmani dan rohani.

Yang membedakan setiap tingkatkan adalah lulusan yang dapat beradaptasi pada kawasan hidup nasional pada tingkat SD, regional untuk SMP, dan tantang internasional untuk SMA dan SMK. Jika tantangan standar itu berarti minimal yang harus dicapai agar siswa adaptif terhadap tantangan hidupnya.

Deskripsi  itu, menegaskan bahwa tugas penting kepala sekolah adalah menetukan Target Mutu Lulusan Tingkat Satuan Pendidikan. Agar SKL menjadi dasar untuk mentukan langkah perubahan, maka sesuai dengan regulasi perlu menentukan indikator target pencapaian lulusan tingkat satuan pendidikan. Hal ini penting untuk dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk indikator-indikator yang terukur pada tiap mata pelajaran yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan ilustrasi berikut:

Pada ruang bagian kiri adalah indikator lulusan di masa lalu dan pada bagian kanan menggambarkan indikator lulusan yang diharapkan pada masa mendatang. Jika lulusan yang diharapkan berbeda daripada sebelumnya, maka secara rasional memerlukan harapan tersebut memerlukan usaha dan sumber daya yang berbeda. Karena mengaharapkan hasil yang lebih baik, maka tidaklah mungkin menggunakan metode dan sumber daya yang sama dengan sebelumnya. Atas alasan itu pula dalam perbaikan mutu diperlukan manajemen perubahan.

Apa Yang Mesti Berubah

Masalah utama tersebut merupakan masalah esensial yang dihadapi semua sekolah dalam menentukan kebijakannya karena kondisi tiap sekolah berbeda pula. Penyelesaian masalah menjadi strategi yang khas, karena itu tiap  sekolah mestinya memiliki stategi yang khas dibutuhkan oleh sekolahnya. Perencanaan perubahan selanjutnya dapat menggunakan kalimat pemandu berikut.

  1. Apakah Visi-misi dan tujuan sekolah sesuai dengan perubahan yang diharapkan?
  2. Apa yang memerlukan program baru untuk mewujudkan mutu lulusan yang diharapkan?
  3. Apakah sekolah memiliki sumber daya yang cukup untuk mendukung perubahan?
  4. Apa yang mendesak harus berubah?
  5. Apakah masalahnya?
  6. Bagaimana mengatasi masalah?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita gunakan matrik sederhana seperti berikut.

No Kondisi Nyata (Per Sandar) Kondisi Ideal Masalah Strategi Perubahan
1.  

Indikator Mutu Lulusan

 

 

2.  

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Isi)

 

 

3.  

Proses Pembelajaran

 

4.  

Penilaian

 

5.  

Pendidik dan Tenaga kependidikan

 

6.  

Sarana dan Prasarana

 

7.  

Pengelolaan

 

8.  

Pembiayaan

 

Model format perancangan manajemen perubahan tersebut mengembangkan pikiran dalam kelompok untuk mendapatkan masalah yang sesungguhnya sekolah hadapi dan mencari tindakan perubahan yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan yang cukup waktu analisis dapat dilanjut dengan memprediksi kompetensi yang dibutuhkan oleh pelaksana perubahan dan cara untuk meningkatkakannya Analisis kebutuhan kompetensi penting untuk dianalisis karena dalam implementasi program akar masalah yang menyebabkan program tak mencapai tujuan karena faktor pernghambatnya ada pada manusia.

Menyusun Program Penerapan Manajemen Perubahan

Hasil analisis yang terdahulu selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perubahan KTSP yang fokus pada disain perubahan SKL, standar isi, proses, dan stnadar penilaian. Dengan memperhatikan kebutuhan mewujudkan target perubahan pada keempat standar di tambah dengan program keempat standar lain, selanjutnya sekolah mengembangkan program jangka menengah, program tahunan dan program semester.

Implementasi hasil analisis kekbutuhan diintegrasikan dalam program sekolah. Untuk dapat melaksanakan kegaitan kelompok secara singkat, maka peserta pelatihan mendapakan model KTSP dan Program Tahunan untuk mereka gunakan sebagai contoh yang dapat mereka kaji dan dapat diadaptasi.

Contoh : KTSP sebagai Dasar Pengarah Manajemen Perubahan 

 

Referensi:

Esther Cameron & Mike Green, 2000. Making Sense of Change Management : A Complete Guide to The Models,  Tool & Techniques of Organizational Change, Kogan Page, Lodong and Philadelphia

Anderson, D. & Anderson, LA 2001. Beyon Change Management: Advanced Strategies for Today’s Transformational Leaders. San Francisco: Jossey-Bass.

David R. Krathwohl, 2000. A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview. http://rt3region7.ncdpi.wikispaces.net/file/view/8+Perspectives+on+RBT.pdf

Gordon Mitchell. 1999. Change Management: Best Practice in Whole School Development, Danida, Denmark.

http://en.wikipedia.org/wiki/PDCA,

Thomas L , Hunger David, Strategic Management and Business Policy. 1995. Addison-Wesley Publishing Company. California.

 

 

About Dr. Rahmat

Dr. Rahmat adalah pengawas sekolah, narasumber, pelatih, dan konsultan pengembangan sumber daya insani sekolah.

Comments

comments